Friday, August 27, 2010

cerita part 8

Yura memutar otaknya. "dari mana kau bisa kira begitu?" tanya Yura, siapa tahu ia bisa berbohong. Mungkin saja Yama hanya asal tebak. "aku melihat sendiri" jawab Yama, Yura seperti kejatuhan batu 1000 ton.
Oke, ia sama sekali tidak bisa mengelak, mungkin memang seharusnya ia bicara jujur. "ia, memang. Sudah cukup lama kami jadian" akhirnya itulah yang dikatakan Yura. Mata Yama terbelalak kaget. "sejak kapan?" selidik Yama. Yura berpikir sejenak, "sejak... Kau dan Shida menonton blue angel, setelah itu kalian pergi ke kafe khn? Nah disitulah kami jadian". Yama diam, ia tidak tahu ingin mejawab apa. Sekarang Yama tahu mengapa Yuto tahu hubungannya dengan Shida, dan pada saat itu ternyata Yuto juga punya pacar. Dunia ini sungguh aneh. "oke, makasih, Yura" lalu Yama balik badan memunggungi Yura, lalu melangkah pergi.

Shida sendirian di dalam kelas, duduk entah merenungi sesuatu. Anak2 lain sudah pulang dari tadi. Ia belum mau pulang, ingin sendirian di dalam kelas. Sebenarnya ia sangat sedih atas putusnya hubungannya dengan Yama. sudah lama Shida menyukai Yama, begitu ia dapat bahagia dengan Yama, Ken datang dan mengerecoki hubungannya. Dengan berat hati Shida memutuskan Yama. waktu itu, setelah Shida berhasil memutuskan Yama, semalaman ia menangis di dalam kamar.
"Shida-chan??" panggil Yura, Shida mendongak dan menatap Yura dengan lesu. "ngapain kamu disini? Sekolah sudah bubar sejak tadi. Sedang mikir apa?" tanya Yura. Setelah bicara dengan Yama, ia kembali ke kelas karena feelingnya Shida berada di kelas untuk menyendiri.
Shida menggeleng pelan, "bagaimana kau tahu aku disini?" tanya Shida. "aku tahu kamu, Shida. Kau selalu menyendiri setiap ada masalah. Dan aku tahu juga kalau kau sekarang ada masalah. Kau bisa cerita ke aku". Shida tersenyum kecil, "ya, aku memang sedang banyak masalah. Masalah yang berhubungan dengan kita."
Yura menatap Shida bingung. "kita??" Shida hanya diam, Yura tidak memaksa Shida untuk menjelaskan.
Shida menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan sekuat tenaga. "maaf, aku belum bisa menceritakannya padamu, Yura" kata Shida sambil menunduk. "aku tahu masalahmu Shida, jangan kuatir", "kau tahu??" tanya Shida. "ya, aku tanya ke.. Ehm, Yama" Shida menatap Yura. Temannya yang satu ini punya bnyak cara untuk mengetahui segala hal yang ia ingin tahu, salah satunya tentang Yama dan Shida. "tapi itu tak seberapa, Yura" kata Shida lirih. Ia mulai menangis pelan. Yura dengan cepat memeluk sahabat baiknya itu.
"aku tahu yang paling berat dari semua masalah adalah itu. Aku tahu ada alasan yang membuat kau sengaja minta putus dengan Yama, walau aku tak tahu tentang apa. Tenang saja, aku akan menunggu hingga kau tenang dan mau cerita."
"maafkan aku, Yura." kata Shida pelan, Yura hanya menatap Shida penuh belas kasihan.

Yama mencoba datang ke rumah Yuto, walau ia tidak tahu akan di usir atau tidak. Sudah sering kali ia datang, tapi baru pertama kali inilah hatinya sama sekali tidak tenang. Ia takut Yuto masih marah pada Yama. Ya.. Yama tahu yang pertama kali marah adalah Yama, Yuto hanya terbawa emosi saja.
Yama menekan bell rumah Yuto beberapa kali, hingga Yuto sendirilah yang keluar.
"haii..." kata Yama pertama kali, ia mengangkat sebelah tangannya.
"mau apa kau?" tanya Yuto ketus, ternyata masih marah pada Yama.
"aku... Mau bicara. Boleh gak?" tanya Yama sambil menunjukkan tampang memelasnya.
Yuto berjalan maju lalu membukakan pintu pagarnya yang cukup tinggi itu. Yama masuk pelan-pelan.
Lalu Yama dan Yuto duduk di ruang tamu. Padahal biasanya kalau mereka lagi akrab suasananya tidak akan menegangkan seperti ini, pikir Yama dalam hati.
"sekarang mau bicara apa?" tanya Yuto masih tetap ketus. Jantung Yama mulai berdetak, sudah lama ia tidak bicara dengan Yuto di sekolah, apa lagi di rumahnya.
"aku.. Aku.. Hanya mau minta maaf" Yama menunduk tidak ingin menatap Yuto. Ia tak mau melihat ekspresi wajah Yuto yang semakin galak.
Di luar perkiraannya, malah Yuto tertawa keras. Yama menatap Yuto dengan wajah bingung.
"akhirnya kau mengatakannya juga" kata Yuto enteng, berbeda jauh dengan ketika Yama baru datang tadi. Yama masih saja diam tak mengerti. "aku tahu pasti suatu saat kau akan minta maaf Yama. Sudahlah, sebenarnya aku sudah lama sekali memaafkanmu. Aku cuekin kamu karena memang itu kemauanmu kan?"
wajah Yama memerah, "maaf, aku sudah membohongimu. Harusnya aku memberitahumu tentang ini. Tetapi sekarang aku dan Shida sudah putus"
"putus? Bagaimana..." sebelum Yuto menyelesaikan kata-katanya, Yama menyela, "aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja beberapa hari yang lalu." Yama sudah mulai santai.
"mmm... Oke. Kapan-kapan saja kita tanya dia"
"ngomong-ngomong soal beberapa hari yang lalu, aku melihatmu jalan dengan Yura berduaan dengan mesra. Tepat setelah aku putus dengan Shida. Nah, selamat ya walau telat lamaaa bangettt" kata Yama sambil cengengesan. "kok gak cerita ke aku?"tanya Yama.
"gimana mau cerita kalau kau sendiri juga begitu, hah?" sindir Yuto.
Lalu mereka tertawa berdua seperti tidak pernah ada apa-apa di antara ke dua teman baik satu ini.

Masa-masa suram mereka sudah lewat, semua ulangan dapat mereka lalui dengan baik. Begitu juga Dai-chan berkat ajaran Chinen. Mereka tinggal menunggu pengambilan rapor.
Semua anak Horikoshi merasa lega karena selesai tes, tetapi tidak dengan Shida. Belum semua ia hadapi, masih tersisa satu.
Ia sudah mencoba untuk bicara dengan Ken, tetapi sekarang ia menyesal untuk bicara dengannya.
Setelah ia tahu bahwa Shida putus dengan Yama, Ken tidak bisa melapor bahwa Yama dan Shida pacaran. Ia amat sangat tidak puas. Sebagai gantinya atas semua itu, Ken meminta Shida untuk menjadi pacarnya.
Sudah pasti Shida shock berat dengannya. Tetapi apa yang harus ia lakukan? Ia belum menerima Ken, sebab di hatinya ia masih sangat menyayangi Yama.
Dan sebenarnya Shida mau memberitahu alasan yang sebenarnya mengapa ia putus dari Yama, namun ia belum mendapatkan keberanian yang cukup.
Shida mondar-mandir tak jelas, ia sedang menunggu Yura. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tapi Yura belum menampakan dirinya.
Setelah kurang lebih Shida menunggu lagi selama 10 menit, dari kejauhan barulah nampak Yura sedang berlari-lari.
"Shida, gomen ne" kata Yura yang masih ngos-ngosan.
Shida yang baru saja mau memuncratkan kemarahannya berubah menjadi iba. Ia menatap Yura yang sedang membungkuk, memberi ia waktu untuk bernafas.
"ada apa?" tanya Shida akhirnya.
"aku.. Aku.. Tadi ada seseorang yang ingin mencelakakan aku, makanya aku memutar lewat jalan jauh, jadi... Maafkan aku"
"mencelakakan??" kata Shida tak mengerti.
Yura hanya mengangguk beberapa kali sebelum ia menjelaskan.
"tadi, sebenarnya aku sudah dekat dari sini, tetapi tiba-tiba ada pengendara motor datang dan lewat di sebelahku. Hampir saja aku terserempet. Lalu setelah aku berjalan tak jauh, tiba-tiba ada mobil yang melaju cukup kencang ke arahku. Sebelum aku tertabrak, aku berlari melewati jalan kecil. Beberapa kali seperti ada yang ingin mendorongku ke sungai yang deras. Lalu tadi, di lapangan, ada sekumpulan anak sedang main bola dan beberapa kali hampir mengenaiku" kata Yura dengan panik.
Shida berpikir sesaat, apa maksudnya itu?



BERSAMBUNG...

Saturday, August 21, 2010

cerita part 7

Seminggu lagi para murid Horikoshi akan mengadakan tes pertengahan semester. Hampir semua murid belajar dengan giat setiap hari hingga tes tersebut usai, tetapi beberapa murid lainnya masih bermalas-malasan dengan alasan yang berbeda. Salah satunya yaitu Dai-chan.
"teman-teman, mau gak hari ini kita main dirumahku?"
"main? Kau serius?" tanya Chii, salah satu anggota Hey!say!JUMP yang paling tertarik dengan yang namanya belajar.
"iyalah, masa bercanda. Gimana, mau gak?"
"Dai-chan, minggu depan kita udah tes loh, jangan santai-santai begitu. Aku saja sudah sibuk belajar mulai bulan lalu" kata Chii memeringati Dai-chan plus menyombongkan diri.
Yuto dan Yama mendongak menatap Chii, "bulan lalu?" tanya Yamajima kompak. Lalu mereka kaget dan akhirnya saling buang muka. hubungan mereka belum akrab kembali sejak pertengkaran terakhir, walau sudah tidak separah pertama kali, sekarang mereka sudah mau berkumpul bersama, walau masih tidak mau bicara satu sama lain.
"hei, kalian ini. Masih saja bertengkar. Kayak anak kecil saja, kapan mau baikan?" tanya Dai-chan, tetapi pertanyaannya sama sekali tidak dijawab.
"kau tahu kenapa mereka bertengkar?" bisik Chii pada Dai-chan. Dai-chan hanya menggeleng, "ayo kita pergi, Chii. Dari pada kita harus terlibat dengan pertengkaran gak jelas mereka" ajak Dai-chan. "tapi... Tapi...", "sudahlah, mereka sudah besar. Tenang saja, mereka tidak akan cakar-cakaran seperti anak SD" lalu Dai-chan pergi meninggalkan Yuto dan Yama, Chii membuntuti Dai-chan.

"Yama, aku mau ngomong sesuatu"
Yama menoleh ke arah Shida, "ada apa?" tanya Yama.
"kita ngomongin di taman aja ya, jangan disini" ajak Shida, Yama hanya menurut. Mereka berdua berjalan menuju taman, lalu duduk di kursi kosong dekat pohon dan kolam. Suasana siang itu cukup terik, tetapi mereka tidak terasa panas sekali pun.
"aku mau.. Mm... Kita putus" kata Shida terbata-bata. Ia melihat mata Yama terbelalak kaget. "tapi, kenapa?" wajah Yama terlihat bingung. " aku sayang banget sama kau, Mirai-chan. Lalu bukannya kau sendiri yang bilang suka sama aku?" Shida menunduk
"karena... Aku sudah tidak sayang sama kamu. Kamu itu, mm... Jahat" kata Shida berbohong, namun wajahnya memerah karena ia menahan tangisnya. Ia tidak rela melepas Yama begitu saja, apa lagi ketika Yama mengatakan bahwa Yama sayang Shida.
"tapi kenapa? Aku jahat kenapa?? Ayo jelaskan!" kata Yama sedikit berteriak. Yama menggelengkan kepalanya. "tidak! Tidak mungkin begitu cepatnya kau tidak sayang padaku. Pasti ada alasannya, Shida!!" namun Shida tidak menjawab, air matanya mulai mengalir turun. Ia segera berlari meninggalkan Yama yang masih terlihat kebingungan. Shida berlari menuju toilet taman, menangis sejadi-jadinya. Maafkan aku, Yama. Kata Shida dalam hati.
Yama yang masih duduk terpaku di taman tidak bisa berpikir jernih. Ia bingung apa yang terjadi pada Shida. Ia tidak ingin Shida memutuskannya begitu saja tanpa alasan. Yama menggaruk-garuk kepalanya lalu bangkit berdiri. Mungkin ia harus menunggu agar Shida menjelaskan kenapa ia memutuskannya. Mungkin Shida butuh waktu seperti dirinya yang masih shock. Sebelum ia berjalan pergi, ia melihat sosok Yura di sebrang sana. Tadinya Yama ingin memanggil Yura untuk membicarakan Shida, tetapi ia segera mengurungkan niatnya ketika melihat siapa yang berada di samping Yura, Yuto.
Yama mencoba memperjelas pengelihatannya, ia takut salah lihat. Yama tau kalau Yuto dekat dengan Yura, tetapi ia belum pernah sekali pun Yuto dan Yura berjalan bergandengan dan mengobrol begitu mesranya berdua. Yama mulai berpikir macam-macam, ia mengira Yuto dan Yura jadian. Memang sih perkiraannya tepat. Tetapi karena besarnya keingin tahuan Yama besar, ia segera mengikuti Yuto dan Yura.
Yama menguping percakapan mereka berdua, sementara itu Yuto dan Yura sama sekali tidak tahu akan kehadiran Yama yang diam-diam telah mengikutinya sedari tadi.
"Yuto, gimana? Kau sudah siap minggu depan?" tanya Yura. Yuto mengangguk mantap. Lalu tersenyum lebar, "yup.. Nanti kalau ada yang kamu gak bisa, tanya ke aku aja ya" kata Yuto, Yura menyenggol bahu pacarnya itu. "ahh, sok pinter aja. Ntar aku tanyain yang susah kamu malah nangis2 bilang nyerah" sindir Yura. Sebenarnya Yura tau banget kalau Yuto gak mungkin gak bisa, sebab Yuto pinter banget dalam pelajaran, walau pun Yuto masih kalah kalau dibandingkan dengan Chinen.
Yama yang nguping terlihat bingung. Sejak kapan mereka benar-benar amat akrab seperti ini? Sepertinya ia banyak tidak tahu tentang Yuto setelah Yama dan Yuto bertengkar hebat. Yama menggaruk-garuk kepala. Ia sudah melupakan kejadian dengan Shida tadi, malah ia sama sekali tidak ingat ia ada dimana. Yang ada pada pikirannya hanyalah satu, yaitu menyelidiki hubungan Yuto dengan Yura.
"Yuto, kita pulang yuk" kata Yura sambil menarik lengan Yuto. Yuto hanya menurut. Yuto menaruh tangannya di atas kepala Yura lalu mengusap-usapkan kepalanya membuat rambut Yura sedikit berantakan. Lalu menurunkan tangannya, sekarang Yuto memegangi kedua pipi Yura. Yama bisa melihat wajah Yura memerah dan menegang. Yama tidak dapat menebak apa yang sedang Yuto pikirkan.
Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Yura berdetak keras, ia berharap Yuto tidak dapat mendengarnya. "kau tahu?" kata Yuto yang masih menatap Yura dengan kedua tangannya menempel di pipi Yura. Yura hanya terdiam, ia tidak bergerak maupun bersuara. "aku... Sudah lama suka sama kamu, Yura" kata Yuto pelan, namun Yama bisa mendengarnya dari balik pohon. Napas Yura tertahan, ia begitu kaget mendengar pernyataan Yuto. Baru kali ini ia melihat Yuto bicara begitu seriusnya.
Mereka diam dalam posisi yang sama. Yama yang mendengar juga tidak dapat bicara maupun bergerak. Bahkan ia semakin tidak dapat berpikir jernih.
Setelah beberapa saat, Yuto baru menurunkan tangannya, lalu ia menarik tangan Yura dan menggenggamnya. Barulah Yura tersadar dari kekagetannya. Yura tidak berkata apa-apa, ia hanya bisa tersenyum.
Yama yang bersembunyi di balik pohon masih shock. Tidak disangka ternyata Yuto juga telah berpacaran. Sebenarnya ia sudah menyangka jauh sebelum itu, pertama kali ketika ia melihat Yura dan Yuto akhir-akhir ini sering pergi berduaan. Walau Yama dan Yuto sedang bertengkar, Yama masih tetap peduli dengan teman akrabnya ini.
Lalu Yama melihat Yuto dan Yura telah berjalan pulang, Yama juga akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dan Yama sama sekali tidak ingat bahwa ia baru saja putus dengan Shida.

Beberapa hari Shida terlihat aneh, Yura yang beberapa kali telah memergoki Shida sedang bengong sambil bergumam tidak jelas. Yura sudah berkali-kali menanyakan hal ini pada Shida, tetapi cewe itu selalu bilang ia baik-baik saja, tidak ada masalah. Saking penasarannya, hari itu ia segera mendatangi Yama sepulang sekolah dan menanyakan langsung pada Yama, Yura sama sekali belum tahu bahwa Shida dan Yama sudah putus.
"Yama!" panggil Yura ketika ia melihat Yama sedang berjalan sendirian. Yuto sore itu ada piket, jadi Yura tidak mencari Yuto terlebih dahulu. "Yura? Halo.. Ada apa?" balas Yama. Yama terlihat biasa saja, walau kalau di perhatikan Yama sedikit lesu.
"boleh tanya sesuatu? Tentang Shida?" tanya Yura, ia jadi teringat dulu Shida pernah bilang kalau Yura sudah tahu hubungannya dengan Shida, jadi Yama tidak perlu menutup-nutupinya lagi.
"Shida??" kata Yama, berbalik nanya.
"ia! Dia akhir-akhir ini terlihat aneh. Apa gara-gara kau?" tanya Yura langsung. Ia orangnya memang cukup terang-terangan kalau sedang serius.
"aku?" kata Yama pendek
"apa kau dan Shida... Putus?" kata Yura, ia menurunkan suaranya saat ia mengatakan 'putus' agar tak ada yang mendengar. Yama terlihat kaget. Bagaimana Yura bisa tahu, pikirnya. Yama terdiam, ia tidak tahu harus jujur atau tidak. Akhirnya Yama mencoba untuk jujur.
"Ya... Aku baru saja putus dengannya" kata Yama menunduk, perasaannya saat itu kacau balau. Yura menatap Yama beberapa detik. "mengapa? Mengapa kau putusi Shida?" Yama bingung, "apa maksudmu? Malah dia yang minta putus dariku. Tanpa sebab lagi! Aku tak tahu apa yang ia pikirkan" kata Yama menjelaskan. Yura semakin bingung. "kau serius?" Yura melihat Yama mengangguk.
"oke, kalau gitu aku pergi dulu. Terima kasih" Yura membalikan badan pergi, sebelum ia melangkah, ia di tahan oleh Yama.
"tunggu dulu, aku sudah jujur pada mu. Giliran aku yang bertanya". Degg... Jantung Yura mulai tidak karuan, jangan sampai Yama tanya tentang...
"apa kau dan Yuto pacaran?" kata Yama pelan namun tegas
Yura tidak menatap Yama, jantungnya naik turun dengan semangat.
Apa yang harus ku jawab? Pikir Yura. Ia tidak dapat kabur sebab pundaknya di tahan olah Yama dengan keras.

BERSAMBUNG...

cerita part 6


"Ryuu, kau lihat Yama, nggak?" tanya Dai-chan
"nggak, ada apa nichan?"
"tadi Yama nyuruh aku ketemu sama dia, tapi kok orangnya menghilang ya?"
Ryuu berpkir sebentar. "nichan, itu Yama" kata Ryuu sambil menunjuk Yama melewati bahu Dai-chan.
"oke, arigattou Ryuu..." lalu Dai-chan meninggalkan Ryuu dan menghampiri Yama.
"Dai-chan!! Kau kemana saja? Aku cariin dari tadi"
"ohh, begitu. Jadi dari tadi kita hanya cari-carian? Waw!!" Yama menatap Dai-chan lalu ketawa.
"jadi dari tadi..."
"iaa" lalu mereka tertawa kembali berdua. "Dai-chan, bisa bantu aku?" tanya Yama sambil menarik Dai-chan untuk menjauhi para anggota HSJ lainnya yang sedang mengobrol. "bantu apa?" lalu Yama mulai membisikan sesuatu di telinga Dai-chan. "ide bagus, Yama. Kapan kita bisa mulai?"
"bagaimana kalau besok? Aku sudah mempersiapkan segalanya, tinggal... Ya kau tahulah"
"oke..." kata Dai-chan sambil tersenyum lebar.

Shida bingung, ia sedang duduk di ruang tamu sendirian sambil memikirkan perkataan Ken. Kata-kata Ken berulang kali terngiang-ngiang di telinganya.
Ya, sebenarnya permintaan Ken tidak berat bagi Shida. Ia hanya meminta agar Yura mau dengan Ken. Tetapi Shida tau, bahwa Yura sudah jadian. Ia tidak ingin Yura kecewa padanya. Apa lagi shida tahu banget kalau Yuto dan Yura sudah sangat akrab.
Shida semakin pusing bila mengingat ancaman Ken. Ia tidak ingin Yura putus, tetapi juga tidak ingin ketahuan hubungannya dengan Yama.
Tanpa sadar, ada seseorang di belakang Shida. "hai, Shida..." kata orang itu.
"ohh, astaga, Yura! Kau mengagetkan ku, tahu!!" wajah Shida terlihat memucat.
"maaf, aku tak tahu. Lagi mikir apa?" tanya Yura. Kau memang tak tahu Yura, benar2 tak tahu. Pikir Shida
"ada apa kau mencariku?" tanya Shida mencoba mengalihkan pembicaraan.
"tidak ada. Aku hanya iseng. Oh ya, ini untuk mu" Yura menyodorkan bungkusan hitam.
"apa ini?" tanya Shida penasaran, ia segera membuka bungkusan itu.
"ini...", "ya, itu oleh-oleh dari ayahku. Kau tahu kan dia minggu lalu ke luar negri. Hari ini ia pulang dan memberimu itu. Lihat, sama seperti punyaku khan. Bedanya kau berwarna biru dan aku hijau"senyum Yura semakin mengembang.
Shida menatap dalam-dalam kemeja dan rok yang di pakai Yura. Serasi sekali dengannya. Lalu ia menatap kembali yang ia pegang. Memang sama seperti punya Yura.
"terima kasih banyak, Yura" Kata Shida, dengan segera ia memeluk Yura. "kau sungguuuhhh... Baik padaku".
"kau juga, Shida."
Shida semakin tidak tega menyerahkan Yura dengan Kei. Apa lebih baik ia menolak? Apa ia harus putus dengan Yama?
"Yura-chan?" tanya Shida
"ada apa?"
"kau.. Kenal dengan Ken?" tanya Shida ragu.
"hah?? Ada apa?" wajah Yura kelihatan terkejut.
"tidak" jawab Shida cepat. "hanya bertanya, kau kenal dengannya?"
"hey, siapa sih yang nggak kenal dia? Biang masalah di sekolah. Kenapa? Kau kangen dengannya" kata Yura terkekeh. Shida tahu ia becanda
"nggak lah. Eh, khn dia lumayan tuh, kau jadian saja dengannya." Shida menyenggol lengan Yura.
"kau bisa saja, Shida. Ingat! Aku sudah punya Yuto. Hehehe, kau saja sana dengan dia. Dari pada dengan Yama, banyak yang suka."
hahaha, tawa Shida dalam hati. "susah tau dapetinnya. Butuh waktu bertahun-tahun" Shida dan Yura tertawa berdua. "bukannya kau tidak pernah mencoba? Selalu menunggu" goda Yura.
"udah, cukup-cukup. Ntar ada yang denger loh..." kata Shida sambil membekap mulut Yura. Tapi dengan segera Yura berhasil melepaskannya.
"aduh... Shida, hampir saja aku mati kehabisan napas. Lagian siapa yang mau denger? Ini kan rumahmu dan lagi gak ada siapa2. Malah karena itu aku berani ngomongin Yama dan Yuto, TAU!!" Shida cuma nyengir seperti kuda.
"lagian aku hanya tanya, kau kenal dengan Ken apa nggak? Ehh, malah melenceng dari tema semula"
"haah?? Udah lah, simpen baik-baik ya Shida bajunya. Kapan-kapan kita kembaran. Aku pulang dulu ya, ntar aku disiksa lagi sama kamu" Yura membalikan badan lalu berjalan ke arah pintu.
"oke, makasih banyak..." jawab Shida ceria.
Setelah Yura pergi, ia segera bersiap-siap untuk menemui Yama.

"astaga, seru banget..." kata Shida selesai dari kencan hari itu.
"kau senang? Bagus deh. Kebetulan aja aku berhasil mendapatkan tiketnya untuk masuk ke taman bermain ini. Aku saja baru pertama kali, sejak buka tahun lalu, tiket buat masuk ke sini abis terus" Yama melihat Shida tersenyum lebar. " hontou ni arigattou Yama-chan. Omae hontou ni..." tiba-tiba Shida terdiam. Yama segera menengok ke atas untuk melihat apa yang Shida lihat. Ternyata kembang api. Sungguh romantis bagi pasangan itu. Mereka menyaksikan kembang api, Yama merangkul Shida.
CTERR... CTERR..
Kembang api sungguh romantis bila dilihat dengan pasangan kita, pikir Yama.
"Shida, tunggu disini" kata Yama, Shida hanya mengangguk. Lalu kembali memerhatikan kembang api lagi.
Beberapa menit kemudian Yama sudah kembali dengan sekaleng minuman di tangannya. "ini" Yama menyodorkan salah satu kaleng. "hari ini cukup dingin, lebih baik kita pulang sekarang" kata Yama ketika sadar Shida dari tadi menatap dirinya.
Mereka berjalan dengan santai menuju stasiun, menunggu kereta datang.
"semoga hari ini bisa bertahan lama" kata Shida pelan.
"mm.." jawab Yama. "tenang saja, hari ini tidak akan usai. Kita dapat seperti ini selamanya" kata Yama polos.
Kau tidak tahu kita punya masalah Yama, pikir Shida.

BERSAMBUNG...

cerita part 5


Shida dan Yura, mereka berbeda dengan Yama dan Yuto. Bila Yuto dan Yama hingga bertengkar hebat, Shida dan Yura bicara baik-baik.
"Shida-chan..." panggil Yura
"nande, Yura?"
"omae... Ng, udh pacaran ya?"
Shida terdiam. Ia menatap Yura dengan seksama.
"bagaimana kau tahu?" Shida melihat Yura menatap lantai. Ia tidak mau membalas pandangan Shida.
"3 hari yang lalu..." Yura memulai "tidak sengaja aku melihatmu berduaan dengan Yama" kata Yura setengah berbisik. Ia tidak mau ada yang mendengar percakapan mereka berdua, terutama guru. Ya, sebab bila ketahuan berpacaran, mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.
"Shida-chan... Apa kau marah padaku?"
Yura mulai menaikan kepalanya. Ia melihat Shida menggeleng pelan, senyum Shida tersungging kecil di bibirnya.
"Tidak, kau adalah temanku. Aku yakin kau tidak akan melaporkan pada guru, Yura. Maaf kalau aku tidak memberitahumu". "mm, tidak Shida. Seharusnya aku yang minta maaf, seharusnya aku tidak ikut campur urusan pribadimu". Yura melirik kanan kirinya, lalu mulai berbisik. "sejak kapan, Shida-chan? Cie... Yang udh punya pacar" Muka Shida merah pada, lalu ikutan berbisik. "belum lama, paling hanya seminggu lebih. Hey, bagaimana dengan mu? Aku tahu, kau dengan Yuto akhir2 ini terlihat aneh" kata Shida mulai menggoda Yura.
"apa???" Yura kaget. Duh, kenapa jadi begini, pikir Yura.
"halah, sudah jangan di tutupi lagi. Aku tahu dari sifatmu, aku sudah lama berteman dengan mu, bukan baru 3-4 hari." kata Shida menyenggol lengan Yura. gantian wajah Yura yang merah padam.
"ssttt... Diam ahh. Ya, aku juga baru jadian dengan Yuto. Setelah aku tahu kau kencan dengan Yama" Yura nyengir. "jangan beri tahu siapa-siapa ya, Shida" "kau juga"

"Yuto-kun, kau sedang berantem dengan Yama?" tanya keito, teman anggota Hey!say!JUMP. "kau selalu menjauhi dia, dan biasanya kalian selalu bersama. Tapi sekarang kenapa?"
"tidak ada apa-apa Keito. Tenang saja, kami hanya ribut kecil"
"ribut kecil?" ulang Keito tidak mengerti
"hahaha, jangan kuatir. Dari pada ngomongin itu, mari kita lanjutin latihan"
"ta.. Tapi.. Aahh, sudahlah. tapi ingat! Jangan kalian bertengkar hingga memutuskan tali persahabatan kalian selama ini" ujar Keito. Sebenarnya ia sangat kuatir akan hubungan Yama dan Yuto. Ini aneh, sebab selama ini jika mereka bertengkar, tidak sampai separah ini. Kali ini, jika mereka berhadapan tanpa sengaja, keduanya langsung membuang muka seakan mereka adalah musuh bebuyutan.
"Baiklah, Keito. Aku mengerti. Ayo kita ke Ryuu, Chii dan Hika" ajak Yuto, sambil menunjuk ke arah mereka bertiga.
Keito hanya mengangkat bahu, ia melirik ke arah Yama sebentar. Yama ternyata sedang sibuk dengan Hp-nya.

Shida-chan, gawat! Yuto sudah tahu hubungan kita berdua. Jadi bagaimana?
Tulis Yama panik. Beberapa menit kemudian ia mendapat balasannya.
Yura juga. Kemarin ia blg melihat kita pada saat kita kencan terakhir kali. Tetapi ia sudah berjanji tidak akan memberitahu siapa-siapa tentang hubungan kitaYama diam, lalu mulai mengetik
apakah kau marah padanya?
*send*
beberapa detik kemudian Hp Yama bergetar. Sebelum berbunyi, ia sudah membuka pesan tersebut.
Ohh, tidak. Aku percaya padanya, ia temanku sejak dulu, dan ia tidak akan membocorkan rahasia kita berdua. Kau tidak marah padaku kan, Yama?

Astaga! Kenapa jadi begini? Aku sudah melupakan teman baikku yang paling aku percaya. Mungkin benar kata opa, blm saatnya aku pacaran. Baru beberapa minggu, aku telah jahat pada Yuto. Pikir Yama.
Tik.. Tik.. Tik.. Suara Yama sedang membalas SMS
kenapa aku harus marah padamu? Kau tidak salah apa-apa, Mirai. Thanks ya atas nasihat nya,,, :D

Yama tersenyum, sekarang ia menyadari kesalahan besar yang ada pada dirinya. Yaitu melupakan teman terbaiknya sepanjang hidupnya.
Nasihat?? Apa kau sedang bertengkar dengan Yuto? Apa gara-gara ia tahu hubungan kita?
Uupss, tepat sasaran. Shida terkadang bisa menebak orang hanya lewat kata-kata saja. Yama sangat salut dengan kehebatannya yang satu ini.
Tidak. Ya udah ya, jaa ne
lalu Yama meninggalkan tempatnya dan berkumpul dengan Takaki, Yabu, inoo, dan Dai-chan.

Tepat pada saat Shida menerima SMS terakhir dari Yama, pintu kamarnya terbuka.
"Shida, turun sebentar. Ada temanmu menunggu di bawah." "iya, ma" lalu Shida turun ke bawah.
"hallo.." sapa orang itu. Mata Shida langsung terbuka lebar. "kau..." kata Shida sambil menutup mulutnya. "apa mau mu?" orang itu hanya tersenyum.
"kau takut pada ku?" tanya orang itu. Ia adalah preman di sekolah lamanya. Orang itu pernah mengerjai Shida hingga Shida tidak masuk sekolah selama sebulan akibat masuk rumah sakit. Setelah tahu Shida masuk rumah sakit, ia pindah sekolah karena tidak mau bertanggung jawab akibat ulahnya sendiri. Namun Shida tidak pernah melapor ke orangtua maupun guru. jadi, siapa pun hanya menganggap kejadian itu hanya kecelakaan, bukan hasil kejahilan seseorang.
tubuh Shida mulai bergetar. "sekali lagi ku tanya, apa mau mu?"
"hey, mari kita omongi ini di depan saja. Tidak enak dengan orang rumah."
Shida hanya menurut. Ia tidak ingin seorang pun mendengar percakapan mereka.
"bagaimana kau tahu rumahku?" tanya Shida setelah mereka berada di teras belakang. Pertanyaannya tidak ditanggapi. "kau tahu namaku?" tanya orang itu. Shida mengangguk. "ya, kau adalah Ken. Umari Ken"
"bagus. Shida Mirai, aku tahu kau punya rahasia. Dan aku tahu rahasia mu" katanya ringan.
"rahasia? Apa maksudmu? Aku sama sekali tak mengerti" Shida membela diri. Padahal, saat itu jantungnya sudah berdetak tak karuan.
"yahh... Antara kau dan,, siapa namanya? Kyosuke? Pyosuke?"
"Ryosuke??"
"ah... Ya! Dia maksudku. Kau dengan Ryosuke". Sekarang Shida sudah bisa menebak apa maksudnya.
"kau tahu apa? kau bukanlah diriku! Dan apa maksudmu antara aku dengan Ryosuke?"
"hey, tenang dulu. Aku hanya ingin minta sesuatu darimu. Tentu saja, bila kau menolak, kau akan mengetahui akibatnya" ia dapat melihat Shida mulai mengeluarkan keringat. Padahal hari itu tidak panas.
"apa???" Sebenarnya Shida tahu ancaman apa lagi yang akan ia katakan. Pasti tentang hubungannya ia dan Yama. Mungkin ia akan melapor pada sekolah atau membocorkannya dimana pun yang ia mau.
"tenang saja. Aku tak akan meminta mu terjun dari lantai 15 atau mencari potongan puzzle di tengah-tengah lumpur hisap. Dan sangsinya bila kau tak mau, aku akan melaporkan mu pada kepala sekolah agar kau dan Yama di keluarkan dari sekolah. Bagaimana?"
"apa? Bagaimana kau melakukan itu? Lagian, siapa yang akan percaya padamu?"
"tenang saja, aku punya buktinya." lalu ia memperlihatkan beberapa foto pada saat ia dan Yama kencan sambil bergandengan tangan, ada juga pada saat mereka HAMPIR berciuman, tetapi tidak jadi untungnya. Atau ada juga waktu ia dan Yama sedang bermain di taman hiburan.
Shida terdiam menatap beberapa lembar foto itu. "apa? Apa yang kau mau? Aku akan berusaha untuk mengabulkannya!"
Ken tersenyum. Tapi tersenyum bagaikan menemukan cara untuk menyiksa orang dengan cara yang paling kejam sedunia.
"sangat gampang..." katanya tanpa menghilangkan senyuman menyeramkan itu. Lalu ia mulai memberitahu permintaannya pada Shida.

BERSAMBUNG...

cerita part 4

pagi hari, di Horikoshi gakuen, murid2 baru berdatangan...
"Yuto-kun" teriak Yura dari kejauhan
"ahh... Ohayou, Yura" kata Yuto sambil tersenyum. Ia berhenti melangkah untuk menunggu Yura yang sedang berlari-lari kecil menghampirinya.
"genki desuka?" tanya Yura.
Sudah 3 hari sejak mereka jadian. Tetapi masih belum ada orang yang tahu tentang hubungan mereka berdua. Baru hari inilah mereka bertemu setelah tragedi di kafe waktu itu.
"genki desu. Kimi wa?"
"watashi mou,,"
diam, tak ada yang bicara di antara mereka berdua. Yuto dan Yura merasa canggung.
"baiklah, kita sudah sampai. Aku ke sana dulu ya... Bye" kata Yuto, lalu meninggalkan Yura serta berjalan ke arah timur, tempat murid cowo.
Yura menatap punggung Yuto beberapa saat, mengambil nafas panjang lalu mulai melangkah ke arah Horikoshi bagian cewe

di kelas, Yuto sedang mencari-cari sosok Yama yang ternyata telah tiba lebih dulu darinya.
Entah apa yang dapat ia katakan pada pagi itu setelah melihat ternyata Yama pergi kencan dengan Shida. Yuto diam beberapa saat, memandang temannya itu dari kursinya, barulah ia berjalan menghampirinya.
Yuto melihat Yama sedang menulis sesuatu.
"ohayou Yama-chan... Lagi ngapain?" sapa Yuto riang. Yuto melihat Yama kaget lalu cepat-cepat menyembunyikan bukunya. Alis Yuto berkerut.
"tidak... Aku hanya sedang baca-baca. Hey, katanya hari ini ulangan mat dibatalkan" kata Yama. Mata Yama masih memancarkan kekagetannya. Yuto melirik laci mejanya sebentar, lalu menjawab "benarkah? Wah, beruntung sekali, aku masih belum mengerti bab itu! Yama, kau sudah mengerti?" kata Yuto antusias, menyembunyikan penasarannya. Yama mengangguk, "mau ku ajarin?".

"ahh... Ternyata cuma begitu? Kenapa Akira sensei mengajarinya begitu susah? Tidak memakai rumus yang semudah ini??" Yama hanya tertawa menatap temannya yang satu ini. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding di kelas itu. Sudah pukul setengah dua kurang lima. Lima menit lagi bel berbunyi tanda istirahat telah usai. Satu-satunya jam senggang yang cukup banyak untuk mengajari Yuto matematika hanyalah istirahat kedua.
"Yuto, aku ke toilet dulu ya" kata Yama sambil berdiri. Yuto ikut berdiri, "aku ikut ya" lalu segera beranjak pergi.
"Yama-chan..." kata Yuto, tetapi ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Yama mendongak, "ada apa?"
"aku... Ahh, tidak jadilah, lupakan saja!"
Yama menatapnya penasaran.
Yuto membatalkan untuk menanyai Yama tentang hubungan Yama dengan Shida.
"ada apa, Yuto? Kau membuatku penasaran aja"
"tidak, tidak.. Sama sekali tidak penting. Lagian aku sudah lupa ingin menanyakan apa" jawab Yuto sambil cengengesan.
Yama hanya menggeleng pelan. Lalu melangakah pergi.

"minna..." panggil Dai-chan.
yang dimaksud Dai-chan dengan sebutan minna adalah Yuto, Yama, dan Chii
"nanti kalian mau kerumah ku?" tanya Dai-chan. "aku baru membeli game baru. Kalian bisa mencobanya!!" kata Dai-chan antusias.
Semua wajah terlihat ceria, mereka setuju dengan tawaran Dai-chan. Tetapi tidak bagi Yama.
Hari itu, seperti biasa. Ia selalu ada janji dengan Shida.
"aku tidak bisa, Dai-chan" kata Yama menyesal. Ia melihat raut wajah temannya menatapnya bingung. memang tidak biasanya ia begitu, sebab selama ini, bilaa berhubungan dengan game baru, ia pasti yang paling bersemangat.
"ada apa?" tanya Yuto. Semua diam menunggu jawaban Yama.
"tidak. Mm... Aku pulang dulu kalau begitu. Bye semua" kata Yama sambil mengambil tas lalu melangkah pergi.
Di depan gerbang sekolah, Yuto menghampiri Yama yang sedang berjalan.
Yuto sengaja menghampiri Yama sendirian sebab ia ingin bicara 4 mata dengan Yama.
"Yama-chan!!!" teriak Yuto dari kejauhan.
"ada apa lagi? Aku sudah bilang aku tidak bisa" jawab Yama ketus.
Yuto mengerutkan keningnya. Lalu mulai membuka mulut "hey, ada apa dengan mu? kau aneh sekali belakangan ini" kata Yuto lembut.
Yama menggeleng, "tidak ada. Dan aku juga sama seperti dulu, apa mau mu?" kata Yama sambil melangkah pergi, Yuto tetap menyusulnya.
"APAA???" kata Yuto sedikit berteriak. Ia menyadari beberapa mata mulai memperhatikan mereka berdua. Lalu Yuto mulai menurunkan tinggi suaranya.
"apa ini semua karena.... Mmm... Yah, karena... Shida?" Yuto dapat melihat ekspresi kaget di mata Yama. Mungkin memang benar, pikir Yuto.
Yama terlihat sedikit tenang. " apa hubungannya dengan dia? Malah, bukannya kau yang aneh, nuduh orang sembarangan"
sebenarnya pada saat itu Yama sangat menyesali ucapannya, tetapi mau apa lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kata-katanya sudah terlanjur keluar dan di dengar oleh sahabat karibnya ini.
"tidak usah menutupi Yama, jelas-jelas aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri!" Yuto mulai kebawa emosi. Sebenarnya ini semua sudah melenceng jauh dari niatnya menghampiri Yama.
Napas Yama tercekat, jangan-jangan...
"lihat apa???" ujar Yama galak, namun hatinya tidak enak
"tidak usah berbohong! Aku melihat kau dengan Shida kencan berdua menonton film blue angel beberapa hari lalu, YAMA! Ku kira kau belum ingin memberi tahuku, tetapi aku salah. Ternyata kau memang TIDAK MAU memberitahu-ku. Apa kau takut aku membocorkan rahasia?"
Yama terdiam, "kau...." kata Yama marah. "sudah! Aku sudah tidak mau berhubungan dengan mu lagi, NAKAJIMA YUTO!!!" lalu Yama berbalik pergi.
"ohh... kalau itu mau mu, aku juga tidak mau punya teman sepertimu, YAMADA RYOSUKE!!"
lalu, terpecahlah pertemanan mereka berdua yang telah dijalani selama bertahun-tahun begitu saja.

BERSAMBUNG....