Wednesday, September 15, 2010

Cerita part 10

Yura telah keluar dari rumah sakit, sedangkan Yuto belum diperbolehkan oleh dokter. Sebelum Yura pergi meninggalkan rumah sakit, ia menyempatkan diri menjenguk Yuto.
Yuto sudah banyak membaik, beberapa memar sudah tidak sakit lagi, luka di lengan dan kepala sudah tertutup, hanya tinggal bekas yang tak kunjung hilang. Tetapi luka di kakinya belum sembuh dan terkadang masih terasa nyut-nyutan.
Yura sekarang berada di kamar Yuto
"Yuto, sekarang aku sudah boleh pulang"
"aku tahu itu?"
"apa?" kata Yura kaget
"aku bertanya pada dokter" kata Yuto sambil nyengir
"hahaa, pantas saja. Kapan kau pulang?"
"beberapa hari lagi, sudah membaik semua kok lukanya"
"masa?" tanya Yura. Lalu iseng ia memencet luka di kaki Yuto. Tepat sekali di tengah-tengah luka itu.
"aww... Yura!! Awas kau ya" Yura hanya menjauh. Yuto tak mungkin bisa mengejarnya.
"katanya sudah sembuh??" ejek Yura
"siapa yang bilang sudah sembuh semua? Aku hanya bilang sudah mendingan. Bukan berarti sudah sembuh. Sudah bagus aku menolongmu waktu itu, masa ucapan terima kasihnya sesadis ini?" wajah Yuto terlihat memelas
"coba saja kalau kau tak menolong ku."
"telat! Sekarang aku sudah di hajar oleh mereka"
Yura hanya terkikik geli. Sepanjang itu mereka becanda bedua hingga Yura dijemput dan harus segera pulang.

Di Horikoshi jam istirahat Shida, Yama, Chii, dan Dai-chan sedang berkumpul. Chii sudah menceritakan apa yang dikatakan Yuto pada Dai-chan. Sudah beberapa hari ini mereka mencari yakuza itu, dan sekarang mereka mau menceritakan hasilnya satu sama lain.
"lambangnya cukup antik, susah banget nyarinya" kata Chinen.
"malah karena antik jadi lebih mudah" jawab Yama
"kok gitu?"
"ya kalau banyak yang pakai khan bingung, mana yang yakuza dan mana yang bukan. Tapi kalau dikit, kemungkinan kecil dia bukan yakuza" jelas Yama
"waw.. Kau hebat, Yama. Seperti detektif sungguhan" kata Shida terkagum-kagum.
"hoho... Aku memang suka banget sama detektif, kau tau khan aku sering banget dapet peran detektif. Ternyata itu pengaruh di kehidupan nyata ya? Hahahaa" tawa Yama keras. Ia bangga sama hasil kerjanya sendiri. Apa lagi sampai teman-temannya kagum padanya. Yang lain hanya mencibir.
"gimana kalau kita pancing mereka pakai Yura lagi?" tanya Daiki iseng
"hush.. Sembarangan aja. Ntar kalau dia kenapa-napa lagi gimana?"
"jangan sampai lah..."
semua terdiam. Akhirnya bel tanda akhir istirahat berbunyi. Semua kembali ke gedung dan kelas masing-masing.
Sebenarnya dari tadi ada yang aneh pada perasaan Shida. tetapi ia tak bisa ingat apa itu. Sudah, lupakan itu. Siapa tau nanti juga ingat sendiri, jangan di paksakan. Kata Shida dalam hati. tiba-tiba sebersit bayangan terlintas dalam otaknya membuat kepala Shida sakit.
Apa itu barusan? Tanyanya pada diri sendiri. Ia mecoba mengingat-ingat namun tak bisa. Akhirnya ia berlari ke dalam kelas.

sore hari pada saat hari kejadian Yuto dan Yura masuk rumah sakit...
"hahaha... Dendam ku terbalaskan! Untung ada tugas dari bos" kata salah satu dari mereka. Anggap saja namanya si X
"kau kenal mereka?" tanya temannya, si A
"tentu saja tidak. Aku hanya sedang melampiaskan kekesalanku pada mereka saja" ujar X
"pantas saja kau tadi terlihat garang sekali" kata N
"ya, hasil gebukanmu sangat dasyat!!" lalu si A tertawa keras
"siapa dulu dong??" kata X sambil memukul dadanya. Lalu semua tertawa kembali.
"sebenarnya apa hubungan bos sama mereka ya? Hmm..." tanya N
"ahh, bodo amat. Mau mantan, mau pacar, mau musuh bebuyutan juga aku gak peduli." kata K yang dari tadi asyik main kartu bareng A.
"benar-benar. Aku setuju dengan mu, K. Bagaimana keadaan mereka ya?" sambut A penasaran.
"ohh... Pastinya babak belur dong. Lihat tidak, tadi si cowo itu sampai membiru dimana-mana. Lagian sok jagoan banget" kata X
"kalau mereka lapor polisi bagaimana?" tanya K.
Semua terdiam. "entahlah, kita timpakan semuanya pada bos saja. Memang dia yang menyuruh kita khan?" kata N.
Semua mengangguk setuju. Tanpa rasa bersalah, mereka malah asyik mabuk-mabukan. Tidak menyadari bahwa mereka sedang terancam bahaya akibat perbuatan mereka.

Yura tiba di rumah. Ia menatap sekeliling ruang tamu lalu menghebuskan napas panjang.
Sudah beberapa hari ia tidak melihat rumahnya. Suasana sama seperti sebelum kejadian mengerikan itu. Ya iyalah, batinnya dalam hati.
Ia melemparkan dirinya di atas sofa dan menatap langit-langit ruangan itu.
Beberapa saat lamanya setelah Yura melamun, ia mendengar suara dari depan pintu.
"Yura??" tanya suara itu. Sosok seorang wanita sebaya mamanya muncul dari balik pintu. Yura mengernyitkan dahi. Siapa orang ini? Pikirnya.
Seakan orang itu bisa membaca pikiran Yura, ia berkata, "kau lupa pada ku? Hmmm... Aku tak kecewa. Wajar saja kalau kau lupa. Aku ini mamanya Kenichi, ingat?"
wajah Yura berubah cerah. Sekarang ia ingat siapa orang ini. Kenichi adalah teman sekolahnya dulu ketika 1 sd, tetapi karena suatu sebab, mereka sekeluarga pindah ke luar negri. Sejak saat itu, hubungan mereka putus.
"tante, genki desuka? Ayo masuk..." kata Yura girang. Ia mempersilahkan tante itu duduk.
"Yura sudah besar ya"
Yura hanya tersenyum simpul.
"tante masih kelihatan muda saja"kata Yura basa-basi
"hohoho... ada-ada saja, kamu. Jelas sekali kalau keriputnya tambah banyak" lalu mereka tertawa berdua.
"oh iya, ngomong-ngomong, mama mu dimana??"
"ada kok, tante tunggu sebentar ya, aku panggilin okasan dulu"
lalu Yura berlari ke dalam, beberapa saat kemudian Yura muncul lagi bersama mama nya.
Setelah basa-basi sebentar, Yura akhirnya ijin masuk ke dalam kamar. Dari dalam, samar-samar terdengar perbincangan di depan sana.

Kenichi.., pikir Yura. Sekarang dia seperti apa ya? Aku jadi penasaran. Apakah masih polos dan imut seperti dulu, atau sudah berubah 180' dari yang dulu? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Apakah wajahnya masih sama? Sejuta pertanyaan terlintas di kepalanya.
Akhirnya karena tak ada yang dapat menjawab pertanyaannya, ia mengambil handphone. Jari-jarinya mulai menari di atas tombol Hp, dalam sekejab, sebuah sms sederhana untuk sang kekasih telah selesai tertera di Hp-nya. ia membaca sekali lagi untuk memastikan.
Yuto-kun, ima nani shiteru? Aku sdh smpe rumah nih. Besok aku mau kesana, mau nitip apa nggak?
XXX
*send*
Yura ketawa sendiri di dalam, ia ingat saat malam sebelum pulang kerumah.
Malam itu ia sedang berada di dalam kamar Yuto. Yuto sedang tidur saat tidur, karena iseng, Yura ngerjain Yuto sehingga ia terbangun. Karena kaget di hadapannya ada Yura, Yuto terjungkal jatuh dari atas kasur.
ketika Yura men-cek Hp nya, ia sudah mendapatkan balasannya.
Gak mau apa-apa!! Cuma mw kluar dr penjara ini. Btw, apaan tuh yg XXX?
YRY
payah, kau. pikir Yura.
Lalu Yura kembali menuliskan balasan
artinya apa??
:(
sambil menunggu balasan dari Yuto, ia memutar lagu favoritnya di Hp.

Yorokobi kanashimi..
Uteirete ikiru..
Arino mama tachi mukae..
Hitabi kanjitemo..
Dare demo ikuna ga..


Belum sampai di bagian reff, Yura mendapatkan balasan
idihh, nanya-nanya. Kamu jg gag mw ksh tau. Tp aku ksh tw de, YRY itu Yuto Rabu (love) Yura.
Hehehee... ;")
wajah Yura merah padam dengan segera. Ia tak tau mau membalas apa. Lagu Ultra Music Power-nya Hey!Say!JUMP masih terus berputar memenuhi kamar Yura.

jumping to my dream..
Setsunai kono kokoro de..
Fighting for my dream..
Taiyo wo dakishimete..


Ahaa!! Aku dapat ide, kata Yura pelan sambil menjentikan jarinya, ia mulai mengetik. Dalam beberapa detik, ia sudah berhasil menyelesaikannya.

You're my dream when i'm child.
Now, you're my savior when i'm teen.
You always on my mind.
Now and forever...


*send*
Yura ketawa sendiri membaca pantun bahasa inggrisnya. kata-katanya terlalu blak-blakan, Yuto ngerti nggak ya?? Pikir Yura.
Lama sekali Yura menunggu, lagu Ultra Music Power sudah berganti menjadi First Love-nya Utada Hikaru.

Ashita no ima goro niwa..
Watashi wa kito nai ndarou..
Dare wo omo teru ndarou..
you're always gonna be the one..
...


Lagu terputus berganti menjadi suara getaran. Sms masuk.
Jangan bikin aku pusing, Yura. Sudah ahh, oyasuminasai..
Hahhh?? Yura tercengang. Kenapa ini?
Tapi Yura akhirnya Yura hanya membalas dengan OYASUMINASAI juga.

Friday, August 27, 2010

cerita part 9


sekarang sudah lewat 4 hari setelah kejadian Yura. Tidak pernah terjadi apa-apa setelah itu hingga hari ini Yura tidak masuk sekolah. Padahal hari ini adalah sehari sebelum pengambilan rapor. Seharusnya semua murid wajib datang untuk mengurus segala kepentingan.
Shida sudah sedari tadi menunggu Yura di gerbang pintu sekolah hingga bel tanda masuk berbunyi.
Terdengar gosip yang tidak mengenakan ketika Shida pulang sekolah. Ada salah satu anak SMU Horikoshi kemarin sore di cegat oleh beberapa yakuza, dan ia adalah sepasang anak perempuan dan laki-laki. Mereka terluka cukup parah ketika di temukan mereka tergeletak di sebuah gang kecil.
Hati Shida berkecambuk nggak keruan. Ia mulai berpikiran negatif. Jangan-jangan anak itu.... , lalu Shida menggeleng kuat untuk menghilangkan pikiran buruknya itu. Jangan berpikir yang enggak-enggak, kata Shida dalam hati.

Pada saat yang bersamaan di sebuah rumah sakit...
Yuto membuka matanya yang terasa amat berat, ia menatap sekeliling ruangan yang serba putih tersebut.
"Yuto..." panggil seseorang di sana
Yuto menoleh dan melihat Yama.
"aa.. Aku.. Dimana??" tanya Yuto sambil memegang kepalanya. Ia meringis kesakitan.
"...." Yama diam untuk menyusun kata-kata. Salah satu teman Yama lah yang menemukan Yuto dan Yura di gang tersebut.
"kemarin sore... kau di pukuli oleh sekelompok yakuza" Yuto lalu teringat sesuatu yang penting, YURA.
"mana Yura? Dia baik-baik saja nggak?" tanya Yuto menggebu-gebu. Yama segera menenangkan Yuto terlebih dahulu baru menjelaskan semuanya.
"Yura ada di kamar sebelah. Ia cuma luka ringan saja kok. Malah yang harusnya di kuatirkan itu kamu"
"tapi...." Yuto tidak melajutkan kalimatnya. Sekarang potongan-potongan puzzle tersebut bermunculan dan membentuk suatu gambar.
dan sekarang, Yuto benar-benar dapat mengingatkan kejadian tersebut dengan amat jelas.
Pada saat pulang sekolah, ia melihat Yura di paksa mengikuti yakuza tersebut. Yuto diam-diam mengikuti mereka semua, lalu Yura terlihat amat sangat pucat, dan akhirnya Yuto segera menolong Yura. Tetapi karena jumlah mereka cukup banyak, maka Yuto lah yang di gebuki oleh yakuza tersebut. Yuto mati-matian melindungi Yura sehingga Yura hanya terkena sedikit pukulannya saja.
"hmm... Yama..."
"kenapa? Mau ketemu Yura?" tebak Yama.
Yuto menggeleng, "bukan itu, aku hanya mau agar Yura tidak melihatku pada saat luka parah seperti ini. Tunggu agak mendingan saja"
wajah Yuto terlihat sangat memelas, Yama menjadi tidak enak.
Yama mengangguk setuju pada permintaan Yuto.

"apa!!?! Kok bisa????" teriak Shida, setelah Yama pulang dari rumah sakit, ia segera mendatangi Shida untuk memberitahu kabar Yuto dan Yura.
"haduhh, pantas saja dari tadi perasaanku gak enak." kata Shida kembali sambil berjalan mondar-mandir di depan Yama. Yama hanya menatapnya tajam.
"jadi ceritanya begini ....." Yama menceritakan semuanya hingga ke detail-detailnya yang paling kecil. Shida mendengarkan baik-baik dan sesekali menimpalinya dengan ohh... Dan astaga.
"ck.. Ck.. Ck.. Kejadian yang tragis"
"ya... Yuto sudah sadar, untungnya Yura cuma luka ringan."
"tapi... Waw, Yuto-kun seorang pahlawan. Dia membela pacarnya sendiri. Dia baik banget ya"
Yama hanya menganggukan kepala.
"aku mau kesana!!" ucap Shida tiba-tiba, "aku pengen lihat keadaan mereka berdua sekarang.."
"jangan!!" cegah Yama
Shida mengerutkan keningnya bingung.
"hari ini sudah malam, kau itu cewe. Lagian mereka juga butuh istirahat sekarang. Bagaimana kalau besok?"
Shida berpikir sebentar, "oke,, aku setuju. Jadi besok pulang sekolah mau langsung kesana"
"aku juga, kasihan kan Yuto sendiri" timpal Yama

di kamar Yuto...
Yuto sedang menatap dinding langit-langit kamar rumah sakit. Ia sedang berpikir, mengapa ia bisa kalah?
Ya karena mereka lebih banyak dan kuat, namanya juga yakuza. Jawab Yuto sendiri.
Lalu ia merasa mulai lelah, ia berbaring bolak-balik ke arah kanan kiri.
Lama-kelamaan matanya mulai terpejam dan tertidur.

Yura masuk diam-diam, takut membangunkan Yuto malam itu. Sudah dari tadi ia menunggu di luar untuk melihat Yuto.
Ia duduk di kursi di samping tempat tidur Yuto. Menatap wajah pacarnya lekat-lekat seakan tidak ingin melepaskannya.
Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam menatap wajah Yuto yang sedang tertidur, ia bangun berdiri menghampiri Yuto.
"terima kasih banyak Yuto-kun, aishiteru" bisik Yura tepat di sebelah telinga Yuto, mencium keningnya dan akhirnya berjalan keluar kembali keruangan nya.

Keesokan harinya...
"Yura-chan! Daijyobou?" teriak Shida saat masuk ke kamar Yura. Yura dapat melihat di sebelah Shida ada Yama. Yura tersenyum ke arah mereka berdua bergiliran.
"aku nggak kenapa-napa kok. Sehat aja, cuma luka kecil sih biasa." kata Yura lalu tertawa.
"aku udah denger ceritanya dari Yama. Kok kamu bisa di ikuti yakuza?"
Yura menunduk, lalu mengangkat bahunya.
"entahlah, tiba-tiba aku di cegat dan ditarik. Aku sudah memberontak, tapi pegangannya keras sekali. Tiba-tiba muncul Yuto dan ...." kata-kata Yura terputus. Ia menutup matanya dan menghela napas panjang.
"sudah, gak usah di lanjutkan. Pasti berat banget buat mu kan?" ujar Shida.
Yura mengangguk lemah.
"teman Yama yang menemukan kalian berdua"
Yura menatap Yama. "arigattou Yama"
"hey, jangan berterima kasih padaku." kata Yama.
"kalau begitu, tolong sampaikan pada temanmu itu" Yura tersenyum.
Yama mengangguk.
"aku mau ke tempat Yuto dulu, kasihan. Siapa tau di sedang sendirian."
"oke dehh, jaa"
Yama melangkah ke arah pintu dan keluar.
Setelah Yama tidak ada, Yura nyengir ke arah Shida.
"ehmm..." Yura berdehem.
Shida bingung. "mesranya ke rumah sakit berduaan" ledek Yura.
Barulah Shida ngeh maksud Yura.
"udah.. Udah... Gak usah ngeledek deh. Tau nggak, aku khawatir banget waktu kamu gak masuk kemaren dan dapet kabar gini"
"hmm... Enggak" kata Yura mantap.
"omae...." kata Shida panjang, lalu mereka tertawa berdua.

"Chinen-kun!!" kata Yama ketika melihat Chii ada di dalam sedang ngobrol dengan Yuto.
"konnichiwa Yama-chan" ujar Chii dan Yuto berbarengan.
"kenapa kamu gak bilang kalau pulang sekolah mau kemari?" tanya Yama
"lohh, bukannya aku udah bilang mau kemari?"
"tapi kamu gak bilang kalau pulang sekolah"
"hey, emangnya aku pacarmu harus melapor kapan aku mau jenguk temanku?"
kata Chii gak mau kalah.
Yuto hanya geleng-geleng kepala. Kedua temannya benar-benar kayak anak kecil, pikir Yuto.
"tapi..."
"sudah ah, jangan bertengkar disini. Atau kuusir kalian berdua." potong Yuto. Semua menatap Yuto.
"ia.. Ia..." Yama akhirnya duduk di sebelah Chinen.
"kau sudah jenguk Yura?" tanya Yama pada Chii.
"nanti saja, setelah Yuto. Abisnya ku dengar lebih parah Yuto di banding Yura. Oh ya, Yuto, bagaimana kau bisa nolong Yura?"
" kau kan tau arah rumah kami sama, kebetulan aja aku ngelihat dia bareng yakuza. Karena penasaraan akhirnya aku ikuti. Gak taunya malah jadi begini"
Chii geleng-geleng kepala.
"nasibmu sungguh tidak beruntung, Yuto"
Yuto hanya tersenyum kecut.
Tiba-tiba masuk Shida.
"hallo semua.." katanya Shida
"kebetulan ada Shida tiba-tiba" kata Yuto
"maksudmu?" tanya Shida tak mengerti, Yama dan Chii juga tidak mengerti.
"aku mau minta tolong pada kalian bertiga"
"ohh... Apa?"
"aku...."
"apa?" desak Shida.
"sebenarnya aku merasa dari awal Yura sudah di incar mereka" kata Yuto pelan
Shida, Yama, dan Chii mengerutkan keningnya.
"maksudmu?"
"ya.. Aku sempet melihat salah satu dari para yakuza itu di depan sekolah kita pada hari itu."
semua mendengarkan Yuto dengan baik.
"ia terlihat sedang mencari seseorang salah satu para murid Horikoshi, ketika ia melihat Yura, ia terlihat lega lalu segera mengeluarkan Hp nya lalu menelpon seseorang"
"tunggu dulu" potong Yama. "bagaimana kau tahu? Padahal kau sedang bersama ku saat pulang sekolah"
"aku melihatnya lewat jendela saat menunggu kamu. Setelah kau selesai, aku langsung pamit pulang kan?"
Yama terlihat sedang mengingat-ngingat kejadian itu
"hmm.. Ya. kalau begitu, lanjutkan"
"oke, setelah aku keluar aku sudah tak melihat orang itu. Aku lihat Shida dengannya berdua. Aku ada di belakang kalian" Yuto menatap Shida, Shida hanya diam. Yuto melajutkan ceritanya.
"tadinya aku kira salah lihat. Setelah Yura dan Shida pisah jalan, beberapa meter kemudian aku melihat orang aneh lagi. Orangnya berbeda tetapi mempunyai tanda yang sama."
"tanda??" tanya Chii
"yup. Ia mucul lalu menhilang lagi. Aneh kan?" tanya Yuto pada semuanya. Yang lain mengangguk mantap
"di belokan, tiba-tiba Yura menghilang juga. Aku segera berlari. Sewaktu sadar, ternyata Yura sedang dikerumunin oleh mereka. Tanpa sadar aku segera melangkah maju. Mereka melihatku dan melangkah kearahku. Ku lihat Yura menjauh tetapi di sadari oleh salah satu dari mereka, akhirnya dengan paksa ia ditarik. Yang lain sedang sibuk menghabisiku. Setidaknya aku lega bukan dia yang di gebuki saat itu."
"kenapa??" tanya Chii polos.
"karena dia cewe. Ia bukan lawan yang tepat untuk yakuza itu" jawab Yuto
"bukan bukan, bukan itu maksudku. Kenapa kau tidak minta tolong kami?"
"kan aku sudah bilang, ku kira aku salah orang. Lagian aku tak mau kalian terlibat beginian"
"tapi sekarang kau malah begini" kata Chii sedikit memaksa.
"setidaknya tulang ku tidak ada yang patah kan? Hanya luka luar"
"itu bahaya, Yuto"
"oke, aku minta maaf. Lain kali aku minta tolong kalian deh." kata Yuto akhirnya
"nahh, begitu donk. Teman itu buat ngebantu hal yang benar"
"trus kau mau minta tolong apa?" tanya Shida tiba-tiba
"kalian jangan bilang ke Yura apa yang ku bilang barusan ya"
yang lain mengangguk
"jadi, tanda yang ku maksud itu mereka selalu memakai barang dengan lambang kepala singa"
"maksudmu?"
"orang pertama yang ku lihat gantungan Hp nya berbentuk kepala singa. Orang ya kedua memakai kalung kepala singa. Dan yang lainnya ku lihat juga sama, hanya barangnya yang berbeda"
"mm... Aku mengerti" kata Yama
"aku ingin kalian cari tahu siapa bos mereka, tenang saja, aku tidak akan bertindak sembarangan."
"oke, kami semua akan membantumu, Yuto" kata Yama semangat.

BERSAMBUNG...

cerita part 8

Yura memutar otaknya. "dari mana kau bisa kira begitu?" tanya Yura, siapa tahu ia bisa berbohong. Mungkin saja Yama hanya asal tebak. "aku melihat sendiri" jawab Yama, Yura seperti kejatuhan batu 1000 ton.
Oke, ia sama sekali tidak bisa mengelak, mungkin memang seharusnya ia bicara jujur. "ia, memang. Sudah cukup lama kami jadian" akhirnya itulah yang dikatakan Yura. Mata Yama terbelalak kaget. "sejak kapan?" selidik Yama. Yura berpikir sejenak, "sejak... Kau dan Shida menonton blue angel, setelah itu kalian pergi ke kafe khn? Nah disitulah kami jadian". Yama diam, ia tidak tahu ingin mejawab apa. Sekarang Yama tahu mengapa Yuto tahu hubungannya dengan Shida, dan pada saat itu ternyata Yuto juga punya pacar. Dunia ini sungguh aneh. "oke, makasih, Yura" lalu Yama balik badan memunggungi Yura, lalu melangkah pergi.

Shida sendirian di dalam kelas, duduk entah merenungi sesuatu. Anak2 lain sudah pulang dari tadi. Ia belum mau pulang, ingin sendirian di dalam kelas. Sebenarnya ia sangat sedih atas putusnya hubungannya dengan Yama. sudah lama Shida menyukai Yama, begitu ia dapat bahagia dengan Yama, Ken datang dan mengerecoki hubungannya. Dengan berat hati Shida memutuskan Yama. waktu itu, setelah Shida berhasil memutuskan Yama, semalaman ia menangis di dalam kamar.
"Shida-chan??" panggil Yura, Shida mendongak dan menatap Yura dengan lesu. "ngapain kamu disini? Sekolah sudah bubar sejak tadi. Sedang mikir apa?" tanya Yura. Setelah bicara dengan Yama, ia kembali ke kelas karena feelingnya Shida berada di kelas untuk menyendiri.
Shida menggeleng pelan, "bagaimana kau tahu aku disini?" tanya Shida. "aku tahu kamu, Shida. Kau selalu menyendiri setiap ada masalah. Dan aku tahu juga kalau kau sekarang ada masalah. Kau bisa cerita ke aku". Shida tersenyum kecil, "ya, aku memang sedang banyak masalah. Masalah yang berhubungan dengan kita."
Yura menatap Shida bingung. "kita??" Shida hanya diam, Yura tidak memaksa Shida untuk menjelaskan.
Shida menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan sekuat tenaga. "maaf, aku belum bisa menceritakannya padamu, Yura" kata Shida sambil menunduk. "aku tahu masalahmu Shida, jangan kuatir", "kau tahu??" tanya Shida. "ya, aku tanya ke.. Ehm, Yama" Shida menatap Yura. Temannya yang satu ini punya bnyak cara untuk mengetahui segala hal yang ia ingin tahu, salah satunya tentang Yama dan Shida. "tapi itu tak seberapa, Yura" kata Shida lirih. Ia mulai menangis pelan. Yura dengan cepat memeluk sahabat baiknya itu.
"aku tahu yang paling berat dari semua masalah adalah itu. Aku tahu ada alasan yang membuat kau sengaja minta putus dengan Yama, walau aku tak tahu tentang apa. Tenang saja, aku akan menunggu hingga kau tenang dan mau cerita."
"maafkan aku, Yura." kata Shida pelan, Yura hanya menatap Shida penuh belas kasihan.

Yama mencoba datang ke rumah Yuto, walau ia tidak tahu akan di usir atau tidak. Sudah sering kali ia datang, tapi baru pertama kali inilah hatinya sama sekali tidak tenang. Ia takut Yuto masih marah pada Yama. Ya.. Yama tahu yang pertama kali marah adalah Yama, Yuto hanya terbawa emosi saja.
Yama menekan bell rumah Yuto beberapa kali, hingga Yuto sendirilah yang keluar.
"haii..." kata Yama pertama kali, ia mengangkat sebelah tangannya.
"mau apa kau?" tanya Yuto ketus, ternyata masih marah pada Yama.
"aku... Mau bicara. Boleh gak?" tanya Yama sambil menunjukkan tampang memelasnya.
Yuto berjalan maju lalu membukakan pintu pagarnya yang cukup tinggi itu. Yama masuk pelan-pelan.
Lalu Yama dan Yuto duduk di ruang tamu. Padahal biasanya kalau mereka lagi akrab suasananya tidak akan menegangkan seperti ini, pikir Yama dalam hati.
"sekarang mau bicara apa?" tanya Yuto masih tetap ketus. Jantung Yama mulai berdetak, sudah lama ia tidak bicara dengan Yuto di sekolah, apa lagi di rumahnya.
"aku.. Aku.. Hanya mau minta maaf" Yama menunduk tidak ingin menatap Yuto. Ia tak mau melihat ekspresi wajah Yuto yang semakin galak.
Di luar perkiraannya, malah Yuto tertawa keras. Yama menatap Yuto dengan wajah bingung.
"akhirnya kau mengatakannya juga" kata Yuto enteng, berbeda jauh dengan ketika Yama baru datang tadi. Yama masih saja diam tak mengerti. "aku tahu pasti suatu saat kau akan minta maaf Yama. Sudahlah, sebenarnya aku sudah lama sekali memaafkanmu. Aku cuekin kamu karena memang itu kemauanmu kan?"
wajah Yama memerah, "maaf, aku sudah membohongimu. Harusnya aku memberitahumu tentang ini. Tetapi sekarang aku dan Shida sudah putus"
"putus? Bagaimana..." sebelum Yuto menyelesaikan kata-katanya, Yama menyela, "aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja beberapa hari yang lalu." Yama sudah mulai santai.
"mmm... Oke. Kapan-kapan saja kita tanya dia"
"ngomong-ngomong soal beberapa hari yang lalu, aku melihatmu jalan dengan Yura berduaan dengan mesra. Tepat setelah aku putus dengan Shida. Nah, selamat ya walau telat lamaaa bangettt" kata Yama sambil cengengesan. "kok gak cerita ke aku?"tanya Yama.
"gimana mau cerita kalau kau sendiri juga begitu, hah?" sindir Yuto.
Lalu mereka tertawa berdua seperti tidak pernah ada apa-apa di antara ke dua teman baik satu ini.

Masa-masa suram mereka sudah lewat, semua ulangan dapat mereka lalui dengan baik. Begitu juga Dai-chan berkat ajaran Chinen. Mereka tinggal menunggu pengambilan rapor.
Semua anak Horikoshi merasa lega karena selesai tes, tetapi tidak dengan Shida. Belum semua ia hadapi, masih tersisa satu.
Ia sudah mencoba untuk bicara dengan Ken, tetapi sekarang ia menyesal untuk bicara dengannya.
Setelah ia tahu bahwa Shida putus dengan Yama, Ken tidak bisa melapor bahwa Yama dan Shida pacaran. Ia amat sangat tidak puas. Sebagai gantinya atas semua itu, Ken meminta Shida untuk menjadi pacarnya.
Sudah pasti Shida shock berat dengannya. Tetapi apa yang harus ia lakukan? Ia belum menerima Ken, sebab di hatinya ia masih sangat menyayangi Yama.
Dan sebenarnya Shida mau memberitahu alasan yang sebenarnya mengapa ia putus dari Yama, namun ia belum mendapatkan keberanian yang cukup.
Shida mondar-mandir tak jelas, ia sedang menunggu Yura. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, tapi Yura belum menampakan dirinya.
Setelah kurang lebih Shida menunggu lagi selama 10 menit, dari kejauhan barulah nampak Yura sedang berlari-lari.
"Shida, gomen ne" kata Yura yang masih ngos-ngosan.
Shida yang baru saja mau memuncratkan kemarahannya berubah menjadi iba. Ia menatap Yura yang sedang membungkuk, memberi ia waktu untuk bernafas.
"ada apa?" tanya Shida akhirnya.
"aku.. Aku.. Tadi ada seseorang yang ingin mencelakakan aku, makanya aku memutar lewat jalan jauh, jadi... Maafkan aku"
"mencelakakan??" kata Shida tak mengerti.
Yura hanya mengangguk beberapa kali sebelum ia menjelaskan.
"tadi, sebenarnya aku sudah dekat dari sini, tetapi tiba-tiba ada pengendara motor datang dan lewat di sebelahku. Hampir saja aku terserempet. Lalu setelah aku berjalan tak jauh, tiba-tiba ada mobil yang melaju cukup kencang ke arahku. Sebelum aku tertabrak, aku berlari melewati jalan kecil. Beberapa kali seperti ada yang ingin mendorongku ke sungai yang deras. Lalu tadi, di lapangan, ada sekumpulan anak sedang main bola dan beberapa kali hampir mengenaiku" kata Yura dengan panik.
Shida berpikir sesaat, apa maksudnya itu?



BERSAMBUNG...

Saturday, August 21, 2010

cerita part 7

Seminggu lagi para murid Horikoshi akan mengadakan tes pertengahan semester. Hampir semua murid belajar dengan giat setiap hari hingga tes tersebut usai, tetapi beberapa murid lainnya masih bermalas-malasan dengan alasan yang berbeda. Salah satunya yaitu Dai-chan.
"teman-teman, mau gak hari ini kita main dirumahku?"
"main? Kau serius?" tanya Chii, salah satu anggota Hey!say!JUMP yang paling tertarik dengan yang namanya belajar.
"iyalah, masa bercanda. Gimana, mau gak?"
"Dai-chan, minggu depan kita udah tes loh, jangan santai-santai begitu. Aku saja sudah sibuk belajar mulai bulan lalu" kata Chii memeringati Dai-chan plus menyombongkan diri.
Yuto dan Yama mendongak menatap Chii, "bulan lalu?" tanya Yamajima kompak. Lalu mereka kaget dan akhirnya saling buang muka. hubungan mereka belum akrab kembali sejak pertengkaran terakhir, walau sudah tidak separah pertama kali, sekarang mereka sudah mau berkumpul bersama, walau masih tidak mau bicara satu sama lain.
"hei, kalian ini. Masih saja bertengkar. Kayak anak kecil saja, kapan mau baikan?" tanya Dai-chan, tetapi pertanyaannya sama sekali tidak dijawab.
"kau tahu kenapa mereka bertengkar?" bisik Chii pada Dai-chan. Dai-chan hanya menggeleng, "ayo kita pergi, Chii. Dari pada kita harus terlibat dengan pertengkaran gak jelas mereka" ajak Dai-chan. "tapi... Tapi...", "sudahlah, mereka sudah besar. Tenang saja, mereka tidak akan cakar-cakaran seperti anak SD" lalu Dai-chan pergi meninggalkan Yuto dan Yama, Chii membuntuti Dai-chan.

"Yama, aku mau ngomong sesuatu"
Yama menoleh ke arah Shida, "ada apa?" tanya Yama.
"kita ngomongin di taman aja ya, jangan disini" ajak Shida, Yama hanya menurut. Mereka berdua berjalan menuju taman, lalu duduk di kursi kosong dekat pohon dan kolam. Suasana siang itu cukup terik, tetapi mereka tidak terasa panas sekali pun.
"aku mau.. Mm... Kita putus" kata Shida terbata-bata. Ia melihat mata Yama terbelalak kaget. "tapi, kenapa?" wajah Yama terlihat bingung. " aku sayang banget sama kau, Mirai-chan. Lalu bukannya kau sendiri yang bilang suka sama aku?" Shida menunduk
"karena... Aku sudah tidak sayang sama kamu. Kamu itu, mm... Jahat" kata Shida berbohong, namun wajahnya memerah karena ia menahan tangisnya. Ia tidak rela melepas Yama begitu saja, apa lagi ketika Yama mengatakan bahwa Yama sayang Shida.
"tapi kenapa? Aku jahat kenapa?? Ayo jelaskan!" kata Yama sedikit berteriak. Yama menggelengkan kepalanya. "tidak! Tidak mungkin begitu cepatnya kau tidak sayang padaku. Pasti ada alasannya, Shida!!" namun Shida tidak menjawab, air matanya mulai mengalir turun. Ia segera berlari meninggalkan Yama yang masih terlihat kebingungan. Shida berlari menuju toilet taman, menangis sejadi-jadinya. Maafkan aku, Yama. Kata Shida dalam hati.
Yama yang masih duduk terpaku di taman tidak bisa berpikir jernih. Ia bingung apa yang terjadi pada Shida. Ia tidak ingin Shida memutuskannya begitu saja tanpa alasan. Yama menggaruk-garuk kepalanya lalu bangkit berdiri. Mungkin ia harus menunggu agar Shida menjelaskan kenapa ia memutuskannya. Mungkin Shida butuh waktu seperti dirinya yang masih shock. Sebelum ia berjalan pergi, ia melihat sosok Yura di sebrang sana. Tadinya Yama ingin memanggil Yura untuk membicarakan Shida, tetapi ia segera mengurungkan niatnya ketika melihat siapa yang berada di samping Yura, Yuto.
Yama mencoba memperjelas pengelihatannya, ia takut salah lihat. Yama tau kalau Yuto dekat dengan Yura, tetapi ia belum pernah sekali pun Yuto dan Yura berjalan bergandengan dan mengobrol begitu mesranya berdua. Yama mulai berpikir macam-macam, ia mengira Yuto dan Yura jadian. Memang sih perkiraannya tepat. Tetapi karena besarnya keingin tahuan Yama besar, ia segera mengikuti Yuto dan Yura.
Yama menguping percakapan mereka berdua, sementara itu Yuto dan Yura sama sekali tidak tahu akan kehadiran Yama yang diam-diam telah mengikutinya sedari tadi.
"Yuto, gimana? Kau sudah siap minggu depan?" tanya Yura. Yuto mengangguk mantap. Lalu tersenyum lebar, "yup.. Nanti kalau ada yang kamu gak bisa, tanya ke aku aja ya" kata Yuto, Yura menyenggol bahu pacarnya itu. "ahh, sok pinter aja. Ntar aku tanyain yang susah kamu malah nangis2 bilang nyerah" sindir Yura. Sebenarnya Yura tau banget kalau Yuto gak mungkin gak bisa, sebab Yuto pinter banget dalam pelajaran, walau pun Yuto masih kalah kalau dibandingkan dengan Chinen.
Yama yang nguping terlihat bingung. Sejak kapan mereka benar-benar amat akrab seperti ini? Sepertinya ia banyak tidak tahu tentang Yuto setelah Yama dan Yuto bertengkar hebat. Yama menggaruk-garuk kepala. Ia sudah melupakan kejadian dengan Shida tadi, malah ia sama sekali tidak ingat ia ada dimana. Yang ada pada pikirannya hanyalah satu, yaitu menyelidiki hubungan Yuto dengan Yura.
"Yuto, kita pulang yuk" kata Yura sambil menarik lengan Yuto. Yuto hanya menurut. Yuto menaruh tangannya di atas kepala Yura lalu mengusap-usapkan kepalanya membuat rambut Yura sedikit berantakan. Lalu menurunkan tangannya, sekarang Yuto memegangi kedua pipi Yura. Yama bisa melihat wajah Yura memerah dan menegang. Yama tidak dapat menebak apa yang sedang Yuto pikirkan.
Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Yura berdetak keras, ia berharap Yuto tidak dapat mendengarnya. "kau tahu?" kata Yuto yang masih menatap Yura dengan kedua tangannya menempel di pipi Yura. Yura hanya terdiam, ia tidak bergerak maupun bersuara. "aku... Sudah lama suka sama kamu, Yura" kata Yuto pelan, namun Yama bisa mendengarnya dari balik pohon. Napas Yura tertahan, ia begitu kaget mendengar pernyataan Yuto. Baru kali ini ia melihat Yuto bicara begitu seriusnya.
Mereka diam dalam posisi yang sama. Yama yang mendengar juga tidak dapat bicara maupun bergerak. Bahkan ia semakin tidak dapat berpikir jernih.
Setelah beberapa saat, Yuto baru menurunkan tangannya, lalu ia menarik tangan Yura dan menggenggamnya. Barulah Yura tersadar dari kekagetannya. Yura tidak berkata apa-apa, ia hanya bisa tersenyum.
Yama yang bersembunyi di balik pohon masih shock. Tidak disangka ternyata Yuto juga telah berpacaran. Sebenarnya ia sudah menyangka jauh sebelum itu, pertama kali ketika ia melihat Yura dan Yuto akhir-akhir ini sering pergi berduaan. Walau Yama dan Yuto sedang bertengkar, Yama masih tetap peduli dengan teman akrabnya ini.
Lalu Yama melihat Yuto dan Yura telah berjalan pulang, Yama juga akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dan Yama sama sekali tidak ingat bahwa ia baru saja putus dengan Shida.

Beberapa hari Shida terlihat aneh, Yura yang beberapa kali telah memergoki Shida sedang bengong sambil bergumam tidak jelas. Yura sudah berkali-kali menanyakan hal ini pada Shida, tetapi cewe itu selalu bilang ia baik-baik saja, tidak ada masalah. Saking penasarannya, hari itu ia segera mendatangi Yama sepulang sekolah dan menanyakan langsung pada Yama, Yura sama sekali belum tahu bahwa Shida dan Yama sudah putus.
"Yama!" panggil Yura ketika ia melihat Yama sedang berjalan sendirian. Yuto sore itu ada piket, jadi Yura tidak mencari Yuto terlebih dahulu. "Yura? Halo.. Ada apa?" balas Yama. Yama terlihat biasa saja, walau kalau di perhatikan Yama sedikit lesu.
"boleh tanya sesuatu? Tentang Shida?" tanya Yura, ia jadi teringat dulu Shida pernah bilang kalau Yura sudah tahu hubungannya dengan Shida, jadi Yama tidak perlu menutup-nutupinya lagi.
"Shida??" kata Yama, berbalik nanya.
"ia! Dia akhir-akhir ini terlihat aneh. Apa gara-gara kau?" tanya Yura langsung. Ia orangnya memang cukup terang-terangan kalau sedang serius.
"aku?" kata Yama pendek
"apa kau dan Shida... Putus?" kata Yura, ia menurunkan suaranya saat ia mengatakan 'putus' agar tak ada yang mendengar. Yama terlihat kaget. Bagaimana Yura bisa tahu, pikirnya. Yama terdiam, ia tidak tahu harus jujur atau tidak. Akhirnya Yama mencoba untuk jujur.
"Ya... Aku baru saja putus dengannya" kata Yama menunduk, perasaannya saat itu kacau balau. Yura menatap Yama beberapa detik. "mengapa? Mengapa kau putusi Shida?" Yama bingung, "apa maksudmu? Malah dia yang minta putus dariku. Tanpa sebab lagi! Aku tak tahu apa yang ia pikirkan" kata Yama menjelaskan. Yura semakin bingung. "kau serius?" Yura melihat Yama mengangguk.
"oke, kalau gitu aku pergi dulu. Terima kasih" Yura membalikan badan pergi, sebelum ia melangkah, ia di tahan oleh Yama.
"tunggu dulu, aku sudah jujur pada mu. Giliran aku yang bertanya". Degg... Jantung Yura mulai tidak karuan, jangan sampai Yama tanya tentang...
"apa kau dan Yuto pacaran?" kata Yama pelan namun tegas
Yura tidak menatap Yama, jantungnya naik turun dengan semangat.
Apa yang harus ku jawab? Pikir Yura. Ia tidak dapat kabur sebab pundaknya di tahan olah Yama dengan keras.

BERSAMBUNG...

cerita part 6


"Ryuu, kau lihat Yama, nggak?" tanya Dai-chan
"nggak, ada apa nichan?"
"tadi Yama nyuruh aku ketemu sama dia, tapi kok orangnya menghilang ya?"
Ryuu berpkir sebentar. "nichan, itu Yama" kata Ryuu sambil menunjuk Yama melewati bahu Dai-chan.
"oke, arigattou Ryuu..." lalu Dai-chan meninggalkan Ryuu dan menghampiri Yama.
"Dai-chan!! Kau kemana saja? Aku cariin dari tadi"
"ohh, begitu. Jadi dari tadi kita hanya cari-carian? Waw!!" Yama menatap Dai-chan lalu ketawa.
"jadi dari tadi..."
"iaa" lalu mereka tertawa kembali berdua. "Dai-chan, bisa bantu aku?" tanya Yama sambil menarik Dai-chan untuk menjauhi para anggota HSJ lainnya yang sedang mengobrol. "bantu apa?" lalu Yama mulai membisikan sesuatu di telinga Dai-chan. "ide bagus, Yama. Kapan kita bisa mulai?"
"bagaimana kalau besok? Aku sudah mempersiapkan segalanya, tinggal... Ya kau tahulah"
"oke..." kata Dai-chan sambil tersenyum lebar.

Shida bingung, ia sedang duduk di ruang tamu sendirian sambil memikirkan perkataan Ken. Kata-kata Ken berulang kali terngiang-ngiang di telinganya.
Ya, sebenarnya permintaan Ken tidak berat bagi Shida. Ia hanya meminta agar Yura mau dengan Ken. Tetapi Shida tau, bahwa Yura sudah jadian. Ia tidak ingin Yura kecewa padanya. Apa lagi shida tahu banget kalau Yuto dan Yura sudah sangat akrab.
Shida semakin pusing bila mengingat ancaman Ken. Ia tidak ingin Yura putus, tetapi juga tidak ingin ketahuan hubungannya dengan Yama.
Tanpa sadar, ada seseorang di belakang Shida. "hai, Shida..." kata orang itu.
"ohh, astaga, Yura! Kau mengagetkan ku, tahu!!" wajah Shida terlihat memucat.
"maaf, aku tak tahu. Lagi mikir apa?" tanya Yura. Kau memang tak tahu Yura, benar2 tak tahu. Pikir Shida
"ada apa kau mencariku?" tanya Shida mencoba mengalihkan pembicaraan.
"tidak ada. Aku hanya iseng. Oh ya, ini untuk mu" Yura menyodorkan bungkusan hitam.
"apa ini?" tanya Shida penasaran, ia segera membuka bungkusan itu.
"ini...", "ya, itu oleh-oleh dari ayahku. Kau tahu kan dia minggu lalu ke luar negri. Hari ini ia pulang dan memberimu itu. Lihat, sama seperti punyaku khan. Bedanya kau berwarna biru dan aku hijau"senyum Yura semakin mengembang.
Shida menatap dalam-dalam kemeja dan rok yang di pakai Yura. Serasi sekali dengannya. Lalu ia menatap kembali yang ia pegang. Memang sama seperti punya Yura.
"terima kasih banyak, Yura" Kata Shida, dengan segera ia memeluk Yura. "kau sungguuuhhh... Baik padaku".
"kau juga, Shida."
Shida semakin tidak tega menyerahkan Yura dengan Kei. Apa lebih baik ia menolak? Apa ia harus putus dengan Yama?
"Yura-chan?" tanya Shida
"ada apa?"
"kau.. Kenal dengan Ken?" tanya Shida ragu.
"hah?? Ada apa?" wajah Yura kelihatan terkejut.
"tidak" jawab Shida cepat. "hanya bertanya, kau kenal dengannya?"
"hey, siapa sih yang nggak kenal dia? Biang masalah di sekolah. Kenapa? Kau kangen dengannya" kata Yura terkekeh. Shida tahu ia becanda
"nggak lah. Eh, khn dia lumayan tuh, kau jadian saja dengannya." Shida menyenggol lengan Yura.
"kau bisa saja, Shida. Ingat! Aku sudah punya Yuto. Hehehe, kau saja sana dengan dia. Dari pada dengan Yama, banyak yang suka."
hahaha, tawa Shida dalam hati. "susah tau dapetinnya. Butuh waktu bertahun-tahun" Shida dan Yura tertawa berdua. "bukannya kau tidak pernah mencoba? Selalu menunggu" goda Yura.
"udah, cukup-cukup. Ntar ada yang denger loh..." kata Shida sambil membekap mulut Yura. Tapi dengan segera Yura berhasil melepaskannya.
"aduh... Shida, hampir saja aku mati kehabisan napas. Lagian siapa yang mau denger? Ini kan rumahmu dan lagi gak ada siapa2. Malah karena itu aku berani ngomongin Yama dan Yuto, TAU!!" Shida cuma nyengir seperti kuda.
"lagian aku hanya tanya, kau kenal dengan Ken apa nggak? Ehh, malah melenceng dari tema semula"
"haah?? Udah lah, simpen baik-baik ya Shida bajunya. Kapan-kapan kita kembaran. Aku pulang dulu ya, ntar aku disiksa lagi sama kamu" Yura membalikan badan lalu berjalan ke arah pintu.
"oke, makasih banyak..." jawab Shida ceria.
Setelah Yura pergi, ia segera bersiap-siap untuk menemui Yama.

"astaga, seru banget..." kata Shida selesai dari kencan hari itu.
"kau senang? Bagus deh. Kebetulan aja aku berhasil mendapatkan tiketnya untuk masuk ke taman bermain ini. Aku saja baru pertama kali, sejak buka tahun lalu, tiket buat masuk ke sini abis terus" Yama melihat Shida tersenyum lebar. " hontou ni arigattou Yama-chan. Omae hontou ni..." tiba-tiba Shida terdiam. Yama segera menengok ke atas untuk melihat apa yang Shida lihat. Ternyata kembang api. Sungguh romantis bagi pasangan itu. Mereka menyaksikan kembang api, Yama merangkul Shida.
CTERR... CTERR..
Kembang api sungguh romantis bila dilihat dengan pasangan kita, pikir Yama.
"Shida, tunggu disini" kata Yama, Shida hanya mengangguk. Lalu kembali memerhatikan kembang api lagi.
Beberapa menit kemudian Yama sudah kembali dengan sekaleng minuman di tangannya. "ini" Yama menyodorkan salah satu kaleng. "hari ini cukup dingin, lebih baik kita pulang sekarang" kata Yama ketika sadar Shida dari tadi menatap dirinya.
Mereka berjalan dengan santai menuju stasiun, menunggu kereta datang.
"semoga hari ini bisa bertahan lama" kata Shida pelan.
"mm.." jawab Yama. "tenang saja, hari ini tidak akan usai. Kita dapat seperti ini selamanya" kata Yama polos.
Kau tidak tahu kita punya masalah Yama, pikir Shida.

BERSAMBUNG...